Sebenarnya kegiatan nge-MC di depan Pak Dubes ini sudah terjadi sekitar dua minggu yang lalu, tepatnya tanggal 13 November yang silam. karena aku tidak punya file foto-fotonya, baru sekarang aku bisa bagi di sini plus dengan cerita lengkapnya setelah aku meng-copynya dari foto-foto yang di-upload panitia di Facebook. Sayang, foto berdua antara aku dan Pak Dubes tidak ada.*sedih tiap kali ingat ini*
Jadi, acara yang berlangsung tepat di hari Jumat ini, termasuk dalam rangkaian acara Japanese Edu-Cultural Week (JECW) 2009, yaitu sebuah rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jepang UGM bekerja sama dengan berbagai pihak, dalam rangka menyambut peringatan 20 tahun jurusan Sastra Jepang UGM. Acara JECW sendiri berlangsung kurang lebih seminggu, dan bisa dibilang puncak acaranya jatuh di hari Jumat, 13 November yang lalu.
Dan beruntungnya (i think, i was so lucky), aku dimintai tolong untuk menjadi MC dalam acara yang menjadi inti keseluruhan acara JECW 2009 ini. Kapan lagi bisa mejeng di depang Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Bapak Kojiro Shiojiri..hehehe. Dengan persiapan kilat, aku dan partnerku waktu, seorang kohai (adik tingkat) bernama Satria, segera menyusun draft MC dalam dua bahasa. aku bagian bahasa Indonesia-nya, Satria bahasa Jepang-nya. jangan tanya mengapa formasinya seperti ini..hehehe. karena jawabannya sudah jelas, bahasa Jepangnya Satria jauh lebih bagus daripada aku. Yes!!
Singkatnya, setelah melewati beberapa kali perubahan susunan acara beberapa kali, sampailah kami di hari H. Supaya tampil lebih matang, kami melakukan gladi resik di pagi harinya. Sampai mendekati jam acara dimulai, aku dan Satria masih terus berlatih. Yah, kami hanya ingin meminimalisir kesalahan, khususnya dalam pengucapan nama dan gelar. Tak lupa, sebelum satu hari sebelum acara, aku hunting dress batik dulu, dan gak lupa beberapa jam sebelum acara, aku nyempatin ke salon buat make up plus styling rambut (walaupun kayaknya hasil make-up sendiriku sepertinya lebih bagus..hehehe).
Begitu acara dimulai, rasa grogi rasanya gak mau pergi. kakiku sampe bergetar kencang waktu itu. tapi, karena melihat Bapak Dubesnya begitu charming, penuh senyum, dan juga humble, rasa grogi itu pelan-pelan hilang. dan thanks God, acara bisa berjalan lancar sampai akhir. Dalam acara ini, selain mendengarkan kuliah terbuka oleh Pak Dubes, kami juga disuguhi oleh penampilan seorang seniman wanita Jepang bernama Ibu Hiromi Kano, yang membawakan tembang-tembang Jawa alias menyinden, lengkap dengan kelompoknya Sakura Hangrawit.
Pengalaman yang luar biasa untukku karna di hari itu aku bisa berdiri di hadapan orang Jepang nomor satu untuk Indonesia, tidak sebagai "mahasiswa biasa", tapi sebagai Master of Ceremony. Sensasi rasa deg-degan bercampur dengan exited, tidak hanya menimbulkan perasaan takut dalam diriku, tapi lebih dari itu, ada rasa bangga karena bisa menampilkan talenta lain yang kumiliki, di depan orang besar seperti beliau. Berharap suatu hari aku bisa nge-MC di depan orang-orang besar yang lain, berharap juga suatu hari aku bisa berfoto berdua dengan Mr. Kojiro Shijiri. *berkhayal*




