03 April 2012

Bersyukur karena semua indah pada waktuNya



Kemarin saya menerima sebuah kabar duka. Ayah teman KKN saya berpulang ke rumah Tuhan karena sakit jantung. Sementara teman saya itu sedang berada di Jakarta karena kebetulan bekerja di sini. Mendengar kabar ini saya ikut merasa berduka yang amat dalam karena saya tahu bahwa teman saya ini memiliki kedekatan yang sangat erat dengan sang Ayah. Saya bisa merasakan betapa dia merasa kehilangan.

Ketika mengetahui kabar itu, otak saya pun secara otomatis memuculkan kembali memori tanggal 29 Agustus di tahun lalu, ketika saya kehilangan Papa saya. :( Sesaat saya merasa sangat bersyukur dan sangat berterimakasih pada Tuhan karena saat itu saya masih diberikan kesempatan untuk melihat dan mengantarkan Papa saya sampai ia menghembuskan nafasnya yang terakhir di dunia. 

Saya masih ingat, tahun lalu, sejak jauh-jauh hari saya dan adik saya sudah memesan tiket pesawat untuk pulang ke rumah di libur Lebaran. Siapa sangka, malam sebelum kami pulang, kondisi Papa ngedrop total, bahkan ketika saya sampai Papa sudah tidak bisa membuka mata, tidak bisa bicara. Ya, saat itu papa sudah koma. Tapi, ajaibnya, ketika saya cium Papa dan saya bilang "Papa, aku sudah datang", ada air mata yang jatuh dari sudut matanya. Saya tahu, saat itu Papa masih ada dan masih menunggu saya. :)

Kurang lebih dua hari Papa bertahan, akhirnya di tanggal 29 Agustus 2011 menjelang sibuh, tulang (Paman) aku tiba-tiba membangunkan kami sekeluarga. Katanya mukanya Pap sudah berubah. Dan benar saja, ketika kami lihat wajah Papa benar-benar berubah. Menjadi lebih cerah, bersinar, benar-benar kembali seperti wajah Papa sebelum sakit. Di saat yang sama, kami memutarkan lagu Batak kesukaan Papa untuk menemaninya kembali ke rumah Bapa. Setelah kami mengganti dengan lagu yang lain (yang lebih cocok dengan pribadi Papa), dan satu persatu kami mencium dan mengucapkan salam "sampai jumpa" ke Papa, akhirnya Papa pergi untuk selamanya. :)

Saat itu, tak ada dari kami yang menjerit-jerit histeris (seperti di film-film). Saya, adik, dan mama saling berpelukan, saling menguatkan, memanggil dokter dan perawat, serta mulai menelpon Pendeta dan keluarga-keluarga untuk mengabarkan kepergian Papa.

Setelah dokter memberikan pernyataan resmi bahwa Papa sudah meninggal, kami lalu membawa jenazah Papa untuk dimandikan, dan disuntik formalin. Sayang, efek formalinynya kurang bagus. Muka Papa jadi sedikit berubah. :( Masih saya ingat, saat itu saya yang mengurusi untuk ambulance yang akan mengantar Papa pulang ke rumah. Jangan tanya rasanya gimana. 

Sungguh, menurut saya pengalaman ini benar-benar luar biasa efeknya untuk saya pribadi. 
Saya tak pernah membayangkan apa jadinya jika saat itu Papa dipanggil dengan kondisi saya sedang bekerja di Jakarta. Saya mungkin tidak bisa sekuat ini sekarang jika saja hal itu terjadi. Hal lain lagi yang membuat saya bersyukur adalah saya dan keluarga masih sempat saling meminta maaf ketika kondisi Papa masih sadar dan lumayan sehat. Tiga bulan sebelum Papa meninggal, tepatnya ketika pertama kali kami mendengar bahwa Papa menderita kanker hati stadium lanjut, kami sekeluarga langsung berkumpul, saling meminta maaf satu dengan yang lain, dan bahkan saya sebagai anak tertua sudah menjalankan kewajiban saya untuk menanyakan ke Papa tentang peristirahatan Papa yang terakhir. Papa menjawab dengan mantap bahwa ingin dimakamkan di Bontang saja, dekat dengan Almarhum abangnya. Jadi, ketika Papa (akhirnya) meninggal dunia, kami sekeluarga sudah tau akan berbuat apa, tidak perlu untuk mengadakan "rapat" keluarga karena seluruh permintaan dan wasiat Papa sudah jelas. 

Acara adat dan gereja untuk mengantar Papa ke peristirahatan terakhir juga berlangsung sangat romantis dan penuh kasih. Pada saat acara keluarga, mama mengenakan kebaya dan kain songket, memakai sanggul, bahkan  bermake-up. Jangan salah, ini juga merupakan permintaan Papa terakhir. :) Ketika satu per satu keluarga mengucapkan salam terakhir, saya masih ingat mama bilang ke (jenazah) Papa, "Papa, dulu ketika menikah Papa ngasih bunga ke Mama. Sekarang sebagai tanda perpisahan kita di dunia, Mama juga ngasi bunga ke Papa. Selamat jalan Papa sayang..". Romantis banget, kan?
Menyadari semua yang sudah saya lewati, semakin saya merasa bersyukur kepada Tuhan untuk semua yang sudah terjadi. Tidak semua orang bisa mendapat "anugerah" seperti yang saya peroleh. Saya juga melihat campur tangan Tuhan dalam "mempersiapkan" hati kami sekeluarga untuk menghadapi kepergian Papa untuk selamanya. Saya semakin menjadi percaya bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua yang terjadi PASTI ada maksud dan tujuannya. Tinggal kitanya saja, apakah cukup peka dalam mengerti maksud dan tujuan itu.

dan pada akhirnya:
--Segala sesuatu akan indah pada waktuNya--