Pas aku lagi ngetik posting-an ini, di warnet lagi diputar lagu Sempurna-nya versi Gita Gutawa. Bait-baitnya membuat aku berpikir sejenak dan nyaris menitikkan air mata. Benar-benar pas dengan tema (ceile!) posting-anku hari ini. Semalam, habis aku balik dari kamarnya Santi (habis pulang dari kedai Coklat), tiba-tiba aku merasa perlu untuk menulis cerita ini. Sebuah cerita cinta luar biasa (menurut aku), yang membuat aku tersadar bahwa cinta sejati memang ada.
Minggu ini banyak sekali kejutan yang aku terima. Selain beban tugas kuliah dan kegiatan ini itu, minggu ini aku dikejutkan oleh kabar berita yang sama sekali di luar dugaan aku. Hari Rabu atau Jumat minggu lalu (tepatnya aku lupa), pas aku habis mandi (dalam pose masih basah dan hanya berbalut handuk pink-ku itu..hehehe), aku ngeliat ke layar hape, ada tanda amplop di situ. Berarti ada sms masuk. Aku cek, ternyata no.baru. Pesannya singkat: "Hi, rind! Ini ninit. Sekarang aku punya no xl bebas. Lagi apa?" Wahh!!! Mba Ninit!!! Langsung tak bales, "Lagi naked, mba. Habis mandi. hehehe..."
Cuma selang beberapa detik, no yang sama langsung telepon. Seneng banget denger suaranya Mba Ninit. Udah lama banget aku ma dia gak ngobrol semenjak dia lulus trus cabs dari kos. Jadilah pembicaraan pagi itu ngalor-ngidul seputar film-film yang baru aja kami tonton. Aku ngebahas panjang lebar soal filmLady Chaterley yang banyak adegan "amal gairah"nya...hehehe. Soal adegan menari bugil di tengah hujan, soal konflik batin si tokoh wanita, semuanya aku ceritain. Belum lagi soal SMS-an ku yang ngajak Mas Andri buat nonton KITA! Project, yang ternyata Mas Andri gak bisa datang ke Jogja karna lagi UTS (aku nyaris lupa kao Mas Andri lagi ngelanjutin kuliah di Semarang..hehehe..lagi-lagi aku lupa!), trus obrolan tiba-tiba nyambung ke sol Mba Veni.
"Oia, Mba. kemaren ada tuh yang datang ke kosku, ciri-cirinya sih mirip Mba Veni gitu. Tapi pas itu kan aku lagi kuliah, jadi yang ngeliat si Santi sama adekku. Kata Santi, mba-nya itu kayaknya udah kebiasa banget sama kos-an kita. Malah dia ketemu Santi pas mba-nya itu keluar dari kamar mandi, trus nanyain kamarku...bla..bla..tapi, sayangnya si Santi lupa nanyain namanya.hehe. Tapi, kayaknya Mba Veni deh. Mba Veni ada bilang ke mba gak kalo dia mau datang ke kosku?" cerosku waktu itu disambi dandan buat pergi kuliah.
"Oh! Kalo itu beneran Veni, waktu itu dia emang ke kos..bla..bla.. (obrolan waktu itu membahas Mba Veni yang sudah mau balik ke Samarinda, juga rencana Mba Ninit sama Mas Andri yang mau ke Jogja akhir bulan ini). "
Tiba..tiba...satu kalimat dari Mba Ninit membuat kerongkongan ku tercekat, "Kan, kemaren-kemaren si Veni dateng tuh ke rumahku..."
"Ngapain, Mba?? Rajin amat ke Magelang segala..."
"Ngelayat!"
????????????????????????????????????????????????????
Aku diam sejenak, gak tau harus ngomong apa, "Ngelayat? Siapa yang meninggal, mba?", suaraku mulai pelan.
"Bapak-ku. Bapak-ku kan udah gak ada tanggal 7 kemaren."
HENING..HENING...
"Beneran, mba?"
"Ya beneran lah! Ngapain juga aku bohong soal kayak gitu"
"Kok gak bilang, mba?"
"Hehehe."
"Mba Ninit kok udah bisa ketawa-ketawa, to?"
"Udah gak papa, kok. Udah lewat seminggu ini. Kalo seminggu kemaren ya iya, rasanya kayak bikin sumur. hehehe.."
Astaga Tuhan! Rasanya baru beberapa bulan yang lalu (tepatnya Januari) aku terkejut saat menerima sms dari Mas Andri yang mengabarkan soal kepergian ibu Mba Ninit. Waktu itu tengah malam, aku bangun karena ada sms duka cita itu. Dan keesokan paginya, aku dan Indah langsung membahas nya. Saat itu, hal yang kami khawatirkan adalah kondisi ayah Mba Ninit. Karena kami sangat tahu kalao sepasang suami-istri itu tidak bisa dipisahkan satu-sama lain. Sangat lengket dan erat.
Beberapa hari kemudian aku mendapat kabar dari Indah kalau ternyata ayah Mba Ninit juga sedang sekarat di rumah sakit. Beliau mengalami pendarahan otak ketika mengetahui istrinya sakit. Dan sampai saat itu beliau belum tahu kalau istrinya telah meninggal dunia. Dari beberapa kali sms dari Mba Ninit, kami memperoleh informasi kalau kondisi ayahnya mulai berangsur-angsur pulih, namun ada beberapa ingatan beliau yang hilang. dan sampai saat itu pun beliau belum tahu mengenai kabar istrinya..dan mungkin sampai beliau menutup mata. soal hal ini aku tidak tahu pasti, karna aku sudah tidak berani bertanya pada Mba Ninit. Takut membuka lagi rasa sakit karenakehilangan orang-orang yang sangat ia cintai itu.
Salut untuk cinta yang tiada batas yang dimilki oleh orang tua Mba Ninit. Di tengah-tengah banyaknya pasangan yang bercerai, mereka masih mampu memupuk rasa cinta itu samapi maut benar-benar memisahkan mereka.
Untuk Mba Ninit, aku tahu Mba Ninit pasti bisa melewati ini semua... Yang kuat, ya Mba.... We love you...
Cuma selang beberapa detik, no yang sama langsung telepon. Seneng banget denger suaranya Mba Ninit. Udah lama banget aku ma dia gak ngobrol semenjak dia lulus trus cabs dari kos. Jadilah pembicaraan pagi itu ngalor-ngidul seputar film-film yang baru aja kami tonton. Aku ngebahas panjang lebar soal filmLady Chaterley yang banyak adegan "amal gairah"nya...hehehe. Soal adegan menari bugil di tengah hujan, soal konflik batin si tokoh wanita, semuanya aku ceritain. Belum lagi soal SMS-an ku yang ngajak Mas Andri buat nonton KITA! Project, yang ternyata Mas Andri gak bisa datang ke Jogja karna lagi UTS (aku nyaris lupa kao Mas Andri lagi ngelanjutin kuliah di Semarang..hehehe..lagi-lagi aku lupa!), trus obrolan tiba-tiba nyambung ke sol Mba Veni.
"Oia, Mba. kemaren ada tuh yang datang ke kosku, ciri-cirinya sih mirip Mba Veni gitu. Tapi pas itu kan aku lagi kuliah, jadi yang ngeliat si Santi sama adekku. Kata Santi, mba-nya itu kayaknya udah kebiasa banget sama kos-an kita. Malah dia ketemu Santi pas mba-nya itu keluar dari kamar mandi, trus nanyain kamarku...bla..bla..tapi, sayangnya si Santi lupa nanyain namanya.hehe. Tapi, kayaknya Mba Veni deh. Mba Veni ada bilang ke mba gak kalo dia mau datang ke kosku?" cerosku waktu itu disambi dandan buat pergi kuliah.
"Oh! Kalo itu beneran Veni, waktu itu dia emang ke kos..bla..bla.. (obrolan waktu itu membahas Mba Veni yang sudah mau balik ke Samarinda, juga rencana Mba Ninit sama Mas Andri yang mau ke Jogja akhir bulan ini). "
Tiba..tiba...satu kalimat dari Mba Ninit membuat kerongkongan ku tercekat, "Kan, kemaren-kemaren si Veni dateng tuh ke rumahku..."
"Ngapain, Mba?? Rajin amat ke Magelang segala..."
"Ngelayat!"
????????????????????????????????????????????????????
Aku diam sejenak, gak tau harus ngomong apa, "Ngelayat? Siapa yang meninggal, mba?", suaraku mulai pelan.
"Bapak-ku. Bapak-ku kan udah gak ada tanggal 7 kemaren."
HENING..HENING...
"Beneran, mba?"
"Ya beneran lah! Ngapain juga aku bohong soal kayak gitu"
"Kok gak bilang, mba?"
"Hehehe."
"Mba Ninit kok udah bisa ketawa-ketawa, to?"
"Udah gak papa, kok. Udah lewat seminggu ini. Kalo seminggu kemaren ya iya, rasanya kayak bikin sumur. hehehe.."
Astaga Tuhan! Rasanya baru beberapa bulan yang lalu (tepatnya Januari) aku terkejut saat menerima sms dari Mas Andri yang mengabarkan soal kepergian ibu Mba Ninit. Waktu itu tengah malam, aku bangun karena ada sms duka cita itu. Dan keesokan paginya, aku dan Indah langsung membahas nya. Saat itu, hal yang kami khawatirkan adalah kondisi ayah Mba Ninit. Karena kami sangat tahu kalao sepasang suami-istri itu tidak bisa dipisahkan satu-sama lain. Sangat lengket dan erat.
Beberapa hari kemudian aku mendapat kabar dari Indah kalau ternyata ayah Mba Ninit juga sedang sekarat di rumah sakit. Beliau mengalami pendarahan otak ketika mengetahui istrinya sakit. Dan sampai saat itu beliau belum tahu kalau istrinya telah meninggal dunia. Dari beberapa kali sms dari Mba Ninit, kami memperoleh informasi kalau kondisi ayahnya mulai berangsur-angsur pulih, namun ada beberapa ingatan beliau yang hilang. dan sampai saat itu pun beliau belum tahu mengenai kabar istrinya..dan mungkin sampai beliau menutup mata. soal hal ini aku tidak tahu pasti, karna aku sudah tidak berani bertanya pada Mba Ninit. Takut membuka lagi rasa sakit karenakehilangan orang-orang yang sangat ia cintai itu.
Salut untuk cinta yang tiada batas yang dimilki oleh orang tua Mba Ninit. Di tengah-tengah banyaknya pasangan yang bercerai, mereka masih mampu memupuk rasa cinta itu samapi maut benar-benar memisahkan mereka.
Untuk Mba Ninit, aku tahu Mba Ninit pasti bisa melewati ini semua... Yang kuat, ya Mba.... We love you...
No comments:
Post a Comment